I. Dengan Kendaraan Pribadi
Jika Anda tidak malas menyetir sendiri silakan membawa kendaraan baik
motor, mobil, ataupun sepeda. Jalurnya mudah. Dari perempatan terminal
Pandaan ambil jalan ke arah Tretes/Trawas (Surabaya ambil kanan, Malang
ambil kiri). Lalu mengikuti jalan saja ke arah Trawas. Desa ini tidak
jauh dari wisata air terjun Dlundung. Jika Anda kebingungan silakan
bertanya kepada orang sekitar yang sudah terbiasa dengan para pendaki.
Anda bisa menuju ke warung Mak Ti, tempat para pendaki biasa makan dan
menitipkan kendaraan. Tapi saya sarankan Anda tidak menitipkan kendaraan
di sini karena masih jauh dari setapak pendakian. Lebih baik Anda lurus
terus di jalan yang menuju G. Penanggungan sampai melewati pertigaan
dua pertigaan. Tepat di pertigaan yang kedua, di warung rujak dan tukang
tambal ban, Anda bisa menitipkan kendaraan. Pemiliknya sangat ramah dan
baik hati.
II. Kendaraan Umum
Jika pilihan Anda adalah kendaraan umum, silakan naik angkutan jurusan
trawas dari terminal Pandaan. Tarifnya Rp5.000,- s.d. Rp7.000.-.
Biasanya Anda akan diturunkan di warung Mak Ti.
Memulai Pendakian
Setelah semuanya siap, perjalanan bisa dimulai. Jangan membawa snack
Waktu normal penempuhan jalur ini sekitar 4 jam, tidak terlalu santai
dan tidak pula terburu-buru. Ikuti saja jalan makadam - tanah - setapak
itu meliuk ke kiri dan ke kanan. Lalu belok ke kanan di pertigaan kecil.
Di pertigaan itu ada pohon (ga tau namanya) yang di dahannya ada
goresan tanda panah, dan di depan pohon itu ada batu seukuran kompor
minyak. Setelah belokan itu ya tinggal lurus terus ke atas. Setelah satu
jam nanti akan ada pos peristirahatan.
Untuk mengecek Anda salah jalan atau tidak, perhatikan posisi Anda. Bila
Anda berada di punggungan dan agak jauh di kiri kanan Anda ada bukit
berarti jalan Anda benar.
Bari pos tersebut perjalanan masih sekitar tiga jam lagi. Jalurnya jelas
sampai ke puncak. Separuh perjalanan masih melewati hutan (hutan tanpa
pohon), separuhnya lagi batu-batuan terjal. Dari bawah ke atas medannya
relatif terjal dan berbatu-batu.
Sekadar informasi, 15 menit sebelum puncak ada gua yang bisa ditempati
untuk tiga orang (saya pernah enam orang :p ). Anda bisa bermalam di
situ tanpa mendirikan tenda atau terus ke puncak dan mendirikan tenda di
puncak. Pintu masuknya sempit, tapi di dalam Anda masih bisa berdiri.
Terserah Anda saja. Puncaknya sangat luas, dan banyak ditumbuhi
rerumputan.
Bila pagi datang rumput yang basah oleh embun itu akan berkilau-kilau
betapa indahnya. Bayangan gunung yang kerucut terbentuk di sisi barat
gunung (coba perhatikan sendiri). Perkotaan akan dapat Anda lihat begitu
jelas tanpa aling-aling pepohonan. Pesan saya: jangan mengharapkan
lautan awan!
Oya. saya biasa memulai perjalan di sore hari untuk menghindari terik matahari dan malam harinya bisa beristirahat.Selamat mendaki….
note: Ada sedikit perubahan. Saya baru
tahu beberapa hari yang lalu. Pertama, sekarang sudah ada pos perijinan
pendakian di depan kampus ubaya, biayaya Rp 10.000,-. Kedua, pos
perhutani di tengah gunung itu sudah tidak ada lagi. Sekarang bentuknya
hanya tanah lapang dan di sekitarnya pun sudah tidak dijadikan ladang.
Jika Anda tidak malas menyetir sendiri silakan membawa kendaraan baik
motor, mobil, ataupun sepeda. Jalurnya mudah. Dari perempatan terminal
Pandaan ambil jalan ke arah Tretes/Trawas (Surabaya ambil kanan, Malang
ambil kiri). Lalu mengikuti jalan saja ke arah Trawas. Desa ini tidak
jauh dari wisata air terjun Dlundung. Jika Anda kebingungan silakan
bertanya kepada orang sekitar yang sudah terbiasa dengan para pendaki.
Anda bisa menuju ke warung Mak Ti, tempat para pendaki biasa makan dan
menitipkan kendaraan. Tapi saya sarankan Anda tidak menitipkan kendaraan
di sini karena masih jauh dari setapak pendakian. Lebih baik Anda lurus
terus di jalan yang menuju G. Penanggungan sampai melewati pertigaan
dua pertigaan. Tepat di pertigaan yang kedua, di warung rujak dan tukang
tambal ban, Anda bisa menitipkan kendaraan. Pemiliknya sangat ramah dan
baik hati.
II. Kendaraan Umum
Jika pilihan Anda adalah kendaraan umum, silakan naik angkutan jurusan
trawas dari terminal Pandaan. Tarifnya Rp5.000,- s.d. Rp7.000.-.
Biasanya Anda akan diturunkan di warung Mak Ti.
Memulai Pendakian
Setelah semuanya siap, perjalanan bisa dimulai. Jangan membawa snack
Waktu normal penempuhan jalur ini sekitar 4 jam, tidak terlalu santai
dan tidak pula terburu-buru. Ikuti saja jalan makadam - tanah - setapak
itu meliuk ke kiri dan ke kanan. Lalu belok ke kanan di pertigaan kecil.
Di pertigaan itu ada pohon (ga tau namanya) yang di dahannya ada
goresan tanda panah, dan di depan pohon itu ada batu seukuran kompor
minyak. Setelah belokan itu ya tinggal lurus terus ke atas. Setelah satu
jam nanti akan ada pos peristirahatan.
Untuk mengecek Anda salah jalan atau tidak, perhatikan posisi Anda. Bila
Anda berada di punggungan dan agak jauh di kiri kanan Anda ada bukit
berarti jalan Anda benar.
Bari pos tersebut perjalanan masih sekitar tiga jam lagi. Jalurnya jelas
sampai ke puncak. Separuh perjalanan masih melewati hutan (hutan tanpa
pohon), separuhnya lagi batu-batuan terjal. Dari bawah ke atas medannya
relatif terjal dan berbatu-batu.
Sekadar informasi, 15 menit sebelum puncak ada gua yang bisa ditempati
untuk tiga orang (saya pernah enam orang :p ). Anda bisa bermalam di
situ tanpa mendirikan tenda atau terus ke puncak dan mendirikan tenda di
puncak. Pintu masuknya sempit, tapi di dalam Anda masih bisa berdiri.
Terserah Anda saja. Puncaknya sangat luas, dan banyak ditumbuhi
rerumputan.
Bila pagi datang rumput yang basah oleh embun itu akan berkilau-kilau
betapa indahnya. Bayangan gunung yang kerucut terbentuk di sisi barat
gunung (coba perhatikan sendiri). Perkotaan akan dapat Anda lihat begitu
jelas tanpa aling-aling pepohonan. Pesan saya: jangan mengharapkan
lautan awan!
Oya. saya biasa memulai perjalan di sore hari untuk menghindari terik matahari dan malam harinya bisa beristirahat.Selamat mendaki….
note: Ada sedikit perubahan. Saya baru
tahu beberapa hari yang lalu. Pertama, sekarang sudah ada pos perijinan
pendakian di depan kampus ubaya, biayaya Rp 10.000,-. Kedua, pos
perhutani di tengah gunung itu sudah tidak ada lagi. Sekarang bentuknya
hanya tanah lapang dan di sekitarnya pun sudah tidak dijadikan ladang.

No comments:
Post a Comment