Monday, 13 January 2025

Anoa dan Anak Penggembala

 Di desa kecil dan terpencil hiduplah keluarga sederhana yang tinggal di ujung desa tepi sungai. Keluarga La Balawa itulah sebutan mereka. Sehari-hari mereka hanya menghabiskan waktu untuk berkebun dan mencari kayu bakar untuk memasak dan dijual ke pasar.

La Balawa adalah kepala rumah tangga yang bekerja merantau mengikuti kapal laut, ia meninggalkan Wa Rimba istrinya dan satu anak yang bernama La Hane. La Hane adalah anak yang penurut, setiap hari dia membantu ibunya berkebun dan pergi mencari kayu bakar.

Suatu hari, ibunya menyuruh La Hane untuk pergi mencari kayu bakar di tepi hutan ujung desa.

"Hane... Oh La Hane." Panggil Wa Rimba.

"Iya Ibu." Jawab La Hane.

"Coba kau pergi cari kayu bakar untuk dijual dan buat kita pakai memasak." Ujar ibu La Hane.

La Hane pun bergegas pergi ke hutan, jarak antara rumah mereka dengan hutan hanya sekitar satu kilometer. Selain anak yang penurut, La Hane juga adalah anak yang kuat, ia mampu memikul kayu dengan kedua pundaknya tanpa merasa lelah meskipun harus pulang balik antara hutan dan rumahnya.

Kali ini tampak tak seperti biasanya, saat sedang mencari kayu bakar, La Hane melihat ada seekor Anoa betina yang terjerat perangkat pemburu hutan. Awalnya La Hane tidak menghiraukannya dan sibuk memotong kayu, tapi tiba-tiba,

"Tolong.... Tolong aku," tangis Anoa

...(dalam keadaan kaget) "Siapa itu?" tanya La Hane.

"Tolonglah aku wahai anak yang baik hati, bantulah aku melepaskan jeratan ini," jawab Anoa.

"Ka-kau Anoa bisa berbicara?" tanya La Hane.

"Tolonglah aku, jeratan ini sakit sekali. Janganlah takut," jawab Anoa.

La Hane terdiam sejenak melihat Anoa tersebut, La Hane tidak tega melihat Anoa yang telah merintih kesakitan akibat tali jeratan pemburu hutan tersebut. la Hane pun membantu Anoa tersebut. Tetapi saat ingin membuka tali jeratan, pemburu datang untuk melihat perangkapnya.

"Astaga pemburu datang!" ujar La Hane.

"Anoa aku akan menyelamatkanmu tetapi tunggulah sebentar, pemburu itu datang," ujar La Hane lagi.

La Hane pun bersembunyi di balik daun lebar dan pohon-pohon.

"Waahhh.... Anoa ini sudah masuk perangkapku," ujar pemburu.

"Ayah... ayah... kemarilah. Ayo lihat ke sini. Ada Anoa yang sangat besar!" teriak anak pemburu.

"Benarkah? Anoa besar telah masuk perangkap kita?" jawab pemburu.

"Benar Ayah! Cepatlah sebelum Anoa itu berhasil kabur," ujar anak pemburu.

"Iya, tunggulah di situ. Hahaha, hari ini aku menghasilkan banyak uang."

"Hei Anoa tunggulah kau di sini, sebentar lagi giliranmu," ujar pemburu.

Pemburu sangat senang dan tampak girang karena hasil buruannya. Setelah pemburu pergi untuk mengecek buruannya yang lain di salah satu perangkapnya, La Hane bergegas pergi ke tempat Anoa tadi.

Hari sudah semakin siang, La Hane belum juga pulang, ibunya menjadi sangat khawatir.

"Dimana anakku ini sudah siang belum pulang juga?" ujar Wa Rima dengan nada cemas.

La Hane membuka tali perangkap dengan cepat dan berhati-hati agar tidak ketahuan oleh pemburu dan Anoa tidak merasa kesakitan. Dan La Hane pun berhasil membuka perangkap tersebut.

"Anoa ikatanmu sudah terlepas sekarang, pergilah kau," ujar La Hane.

"Aku akan ikut denganmu, rawatlah aku dengan baik maka hidupmu akan berubah," jawab Anoa.

"Ta-tapi...," tiba-tiba La Hane memotong pembicaraan.

"Ayolah cepat bawa aku ke rumahmu, sebelum pemburu itu datang dan menangkapku lagi."

"Iyaa baiklah. Ayo segera ikuti aku."

La Hane dan Anoa berjalan keluar dari hutan, hari sudah sore dan mereka pun tiba di rumah. Alangkah terkejutnya ibu La Hane melihat Anoa yang dibawa oleh anaknya.

"Hane, Anoa siapa ini?" tanya Wa Rimba.

"Ibu, Anoa ini ku tolong dari perangkap pemburu dan dia kesakitan akibat perangkapnya, Anoa ini akan dibunuh dan dijual," jawab La Hane.

"Jadi apakah kita rawat saja Anoa ini Sambil menunggu jikalau tiba-tiba pemiliknya mencarinya."

"Iya Ibu, kita rawat saja, lagi pula Anoa ini ku dapatkan dari hutan, jadi tidak mungkin ada yang memilikinya," jawab La Hane.

"Sudahlah kalau begitu sekarang kau makan dulu, ibu akan menyimpan Anoa ini di belakang rumah kita," ujar Wa Rimba.

Setelah Anoa tersebut dirawat dan dipelihara oleh La Hane dan ibunya, kehidupan mereka berubah. La Hane menjadi seorang anak penggembala Anoa dan semua Anoa mereka tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Sehingga ayah La Hane tidak perlu lagi pergi merantau dan sibuk mengurus Anoa bersama keluarganya.

Surat Bu Guru

 Merah padam wajah Iin ketika melihat Reza merobek-robek surat itu di hadapannya. Ingin rasanya ia menampar anak itu. Tapi dia tak punya keberanian. Cepat-cepat ia membalikkan tubuhnya. Berlari ke luar tanpa mengucapkan apa-apa. Ia kesal. Ia marah. Tapi kepada siapa?

Tadi pagi ketika Bu Guru mengabsen, beliau mengeluh. “Lagi-lagi Reza tidak masuk. Ini sudah hari kedua. Siapa yang tahu ke mana dia?” tanyanya.

Tak seorang pun menjawab.

“Siapa yang tinggal dekat dengan rumah Reza?” tanya Bu Guru lagi.

“Iin, Bu!” sahut Meta.

“Kalau begitu sepulang sekolah nanti mampir ke kantor. Ibu mau menitipkan surat untuk orang tua Reza,” kata Bu Guru kepada Iin.

Iin tidak berani menolak, meskipun sebenarnya ia enggan melakukan tugas itu. Rumahnya memang berdekatan dengan rumah Reza. Bahkan persis berada di belakangnya.

Untuk menuju rumahnya, Iin harus melalui gang yang terletak di sebelah kiri rumah Reza. Jadi setiap pergi dan pulang sekolah, ia selalu melewati rumah Gedung yang bagus itu. Hanya saja gerbang masuk rumah Reza berada di sisi jalan yang lain. Iin perlu memutari jalan itu untuk ke rumah Reza.

Akan tetapi, bukan itu alasannya tak pernah mampir ke sana. Iin merasa agak segan pada anak itu. Reza juga selalu bersikap acuh tak acuh bila Iin lewat di samping rumahnya.

“Sudah disampaikan suratnya?” tanya Bu Guru keesokan harinya.

Iin mengangguk. Tak berani ia menceritakan hal yang sebenarnya.

“Tapi mengapa Reza belum juga masuk sekolah?” tanya Bu Guru lagi. “Apa dia sakit?”

Iin menggeleng.

“Kalau begitu, tolong berikan surat Bu Guru kepada orang tuanya sepulang sekolah nanti. Mungkin surat yang kemarin belum sempat mereka baca.” Kata Bu Guru.

Iin mengeluh dalam hati. Lagi-lagi dia tidak punya keberanian untuk menolak. Kini pun kakinya gemetaran saat dia melangkah memasuki halaman rumah Gedung yang bagus itu.

“Surat lagi?” tegur Reza yang sedang asyik bermain dengan anjingnya. “Sini biar ku robek.”

Sesaat Iin kaget mendengar sambutan Reza. Ia tersinggung. Rasa marahnya timbul sehingga lupa pada ketidakberaniannya.

“Sombong!” katanya geram.

Dilemparnya surat Bu Guru ke kaki Reza. “Tuh! Robek-robek sepuasmu. Agar besok aku lagi yang disuruh mengantar surat ketiga ke sini. Apa kamu tidak tahu kalau waktu ku terbuang gara-gara surat itu? Aku harus membantu ibuku, tahu! Orang tuaku tidak kaya. Karena itu, ibuku harus berjualan agar aku bisa sekolah. Tak seperti kamu. Kamu masih sanggup cari sekolah lain kalau kamu dikeluarkan dari sekolah kita. Orang tuamu, kan, kaya. Bisa membayar berapa saja untuk membayar sekolahmu!” tanpa Iin sadari ia sudah menangis tersedu-sedu.

Reza terpaku mendengarnya. Dia tidak mengerti mengapa Iin bersikap seperti itu. Dia lebih tidak mengerti lagi ketika Iin tiba-tiba lari meninggalkan rumahnya. Hatinya jadi tidak enak.

Semalaman dia tidak tidur. Bayangan Iin yang menangis sesudah berteriak-teriak tadi terus mengganggunya.

Iin juga tidak bisa tidur semalaman. Dia menyesal karena telah melampar surat itu ke kaki Reza. Seharusnya ia menyerahkan surat itu langsung kepada orang tua Reza. Bukan membiarkan Reza merobek-robeknya. Apa yang harus dikatakannya nanti kepada Bu Guru, bila beliau menanyakan surat itu? Ah….

Iin jadi enggan ke sekolah. Pagi ini dia sengaja bangun berlambat-lambar.

“Sudah siang, In. biar Ibu saja yang mengatur pisang itu. Kau berpakaianlah,” kata Ibunya yang sedang menggoreng pisang.

Iin menggeleng lemah, “Saya tidak sekolah, Bu,” sahutnya dengan suara setengah berbisik.

“Tidak sekolah?” dahi Ibunya berkerut. “Kenapa? Ada rapat guru lagi?”

Iin menggeleng, pipinya memanas. Tidak enak rasanya mengatakan hal yang sebenarnya pada ibunya.

Selama ini ibunya telah berusaha keras agar dia dan adik-adiknya bisa bersekolah dengan baik. Penghasilan ayahnya sebagai pegawai kecil tentu tidak mencukupi. Itu sebabnya ibunya menitipkan pisang goreng dan kue-kue di warung-warung yang ada di sekitar rumah mereka. ibunya juga menjual keripik singkong dan kacang bawang.

Karena itu, Iin hampir tidak punya waktu untuk bermain. Ia harus membantu ibunya mengiris singkong dan mengupas kacang. Sebelum berangkat sekolah dia menitipkan jualan ibunya dulu di warung. Itu pula yang membuat dia selalu merasa rendah diri bila berhadapan dengan Reza.

“Mbak Iin dijemput temannya,” lapor adiknya.

“Siapa?” tanya Iin heran. Tidak biasanya temannya menjemput untuk berangkat bersama ke sekolah.

“Wah kau belum siap? Sudah pukul setengah 7, nih,” Sebuah suara di belakangnya mengejutkan Iin. Iin menoleh dan… termangu.

Reza telah siap dengan seragam dan tasnya.

“Maafkan sikapku kemarin, In. setelah kupikir-pikir, aku memang salah. Kupikir orang tuaku tidak akan tahu karena mereka sedang berada di luar kota. Aku tidak sadar kalau perbuatanku itu telah menyusahkan kamu,” kata Reza malu-malu.

Mendengar pengakuan Reza, Iin tersenyum senang. Kini dia bisa sekolah dengan tenang tanpa harus memikirkan soal surat kemarin.

“Syukurlah kalau kau akhirnya mau sekolah,” katanya lega.

“Itu sebabnya aku ke sini menjemputmu,” sahut Reza.

“Menjemputku? Bisanya kau diantar mobil,” Iin heran.

“Mulai hari ini aku akan jalan kaki bersamamu. Masih sibuk, ya?” Reza berjongkok di dekat Iin yang masih mengatur piring di atas nampan. “Sini kubantu. Kau berpakaian saja.”

Reza ikut mengatur pisang goreng itu meskipun Iin dan ibunya berulang kali melarang. Akhirnya mereka membiarkan saja karena Reza nampak senang melakukannya.

“Di rumah, aku tidak punya teman. Tidak punya kesibukan. Aku janji akan sering datang ke sini untuk membantumu. Tapi kau juga harus janji padaku,” kata Reza.

“Janji apa?”

“Janji akan membantuku mengejar ketertinggalan selama aku bolos. Mau, kan?” pinta Reza.

Iin mengangguk. Diam-diam dia merasa bahagia karena kini Reza telah berubah. Semoga Reza dapat menjadi anak yang begruna di kemudian hari.

Bukan untuk Aku

 Mamat berlibur ke rumah neneknya di desa. Kedatangan Mamat disambut dengan sukacita oleh neneknya. Agar cucunya betah, nenek Mamat memperlakukan Mamat dengan istimewa.

Untuk makan Mamat, neneknya menyediakan makanan yang enak-enak. Sebelum Mamat tidur, neneknya mendongeng. Setelah Mamat tidur, neneknya tetap terjaga di dekat Mamat untuk menjaga Mamat dari gigitan nyamuk. Pokoknya, nenek Mamat memperlakukan Mamat dengan istimewa.

Suatu pagi nenek Mamat menyediakan sarapan. Menunya nasi goreng, dua potong ayam kampung goreng, pisang, dan segelas air putih. Nenek Mamat juga menunggui cucu kesayangannya itu saat sarapan.

"Bagaimana, Mat, masakan Nenek enak?"

"Wah, enak sekali, Nek," puji Mamat yang membuat neneknya senang.

"Nasi goreng bikinan Nenek enak banget. Ayam gorengnya enak banget. Pokoknya semuanya enak banget."

"Kalau kamu di rumah, bagaimana dengan sarapanmu?"

"Kadang istimewa dan kadang juga biasa-biasa saja, Nek," jawab Mamat jujur. "Tergantung keuangan ibu, kan, Nek?"

Nenek Mamat tersenyum dan mengelus-elus rambut Mamat.

"Tapi kalau Mamat sedang sarapan di rumah, ibu selalu membuat satu gelas susu, dua lembar roti bakar, dan dua butir telur setengah matang," jawab Mamat.

Nenek Mamat menganggukan kepala.

Keesokan harinya, Mamat terheran-heran dengan menu sarapan yang disediakan neneknya. Di meja makan telah tersedia dua lembar roti bakar, dua butir telur ayam kampung setengah matang, dan satu gelas susu.

"Kenapa Mat?" nenek Mamat terkejut karena dilihatnya Mamat kurang suka dengan sarapan yang sudah ia sediakan.

"Bukankah sarapan seperti ini yang biasa kamu makan di rumah?"

"Nek," kata Mamat, "Yang biasa sarapan dengan dua lembar roti bakar, dua butir telur ayam kampung setengah matang dan satu gelas susu itu ibu! Bukan Mamat, Nek!"

Ransel Ajaib

 Ibu Toti adalah guru di Sekolah Pelangi. Semua murid sangat mencintainya. Karena Bu Toti ramah, penyayang, menerangkan pelajaran apapun gampang dimengerti, dan mempunyai ransel Ajaib.

Ratri juga menyayangi Ibu Toti. Ratri baru sebulan pindah ke Sekolah Pelangi. Tapi Ratri tidak percaya kalau Bu Toti mempunyai Ransel Ajaib.

“Tidak mungkin ada ransel Ajaib yang bisa mengeluarkan banyak benda,” Kata Ratri.

“Kalau tidak percaya, ikut saja bila berjalan-jalan di tepi hutan,” timpal Asih, teman sebangku Ratri.

Bu Toti sering mengajak jalan-jalan murid-muridnya. Dia menerangkan ilmu pengetahuan sambil langsung melihat alam. Bila jalan-jalan, Bu Toti selalu membawa ransel gendong ajaibnya. Ransel berwarna pink muda yang lucu. Di depannya digantung boneka monyet yang sedang tersenyum.

Waktu jalan-jalan ke perkampungan di tepi hutan, Bu Toti memberikan hadiah kepada saja yang ditemuinya. Ada yang diberi mi instan, susu bubuk, beras, tepung terigu, cangkul, baju, dan benda lainnya. Semua benda yang diberikan itu dikeluarkan dari ransel gendongnya.

“Anak-anak, kita beristirahat di sini. Kita duduk melingkar,” kata Bu Toti setelah memasuki hutan. “Tapi sebelum kita makan, ada yang ingin diberi bagian terlebih dahulu.”

Bu Toti mengeluarkan banyak buah-buahan. Ada apel, pisang, pepaya, pear, jeruk, dan semangka. Tiba-tiba bermunculan banyak binatang. Ada kelinci, rusa, kura-kura, monyet, burung, dan entah apa lagi. Ratri terkejut dan takut.

“Tenang saja, itu teman-teman Bu Toti, teman-teman kita juga,” kata Asih.

Setelah binatang itu pergi, Bu Toti mengeluarkan makanan dan minuman lagi. Setiap siswa mendapatkan sebungkus nasi dan lauknya, sebotol minuman mineral, dan sebuah buah-buahan. Ratri takjub melihatnya. Ransel Bu Toti memang benar-benar ajaib.

Menjelang siang mereka pulang. Di perjalanan pulang, Bu Toti menghampiri Ratri.

“Ratri tidak usah heran dengan ransel Ibu,” kata Bu Toti seperti tahu apa yang ada di pikiran Ratri.

“Ini adalah ransel ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu menakjubkan. Semakin kita memberikannya kepada orang lain, kepada makhluk lainnya di dunia ini, bukannya menjadi habis, tapi malah semakin banyak.”

Ratri tersenyum.

“Makanya, Ratri harus pintar, banyak membaca, banyak belajar,” sambung Bu Toti.

Ratri memeluk Bu Toti. Dia berjanji akan belajar sungguh-sungguh, membaca sebanyak-banyaknya. Dia ingin mempunyai ransel pengetahuan yang ajaib. Dia ingin menjadi orang pintar yang membagikan ilmu pengetahuannya dengan bijaksana.

Sepatu Ditukar Makanan

 “Lalalalalala….” Terdengar senandung Nini di suatu sore yang cerah. Sesekali ia berlari kecil sambil melompat ceria. Hari ini Nini bergembira karena dia berulang tahun. Mamanya tadi menghadiahkan uang seratus ribu rupiah, sesuai permintaannya. Nini ingin membeli sepatu dengan uang tersebut.

Nini memang sudah lama ingin membeli sepatu merah muda. Sepatu itu terpajang di etalase toko dekat rumahnya. Sepulang sekolah tadi, Nini melihat tulisan potongan harga di toko itu.

Wah, Nini tambah bersemangat menuju toko sepatu itu.

“Nah tinggal menyeberang jalan, sampai deh! Tunggu, ya, sepatu, sebentar lagi kau akan menjadi milikku.” Kata Nini dalam hati sambil tersenyum.

Baru saja ia akan menyeberang, tiba-tiba ada yang menarik ujung bajunya.

“Kak, minta Kak….. Hari ini saya belum makan.” Terdengar suara lirik anak laki-laki.

Nini menoleh. Tampak seorang anak laki-laki berwajah sedih dan lesu. Badannya kurus, hanya ditutupi kaos tipis dan celana pendek kumal.

Kakinya pun tak beralaskan apa-apa. Nini melihat anak itu dengan iba. Tetapi ia ingin segera pergi ke toko sepatu, takut sepatu itu dibeli oleh orang lain.
“Oh ya, aku kan punya uang lima ribuan untuk beli es krim,” gumam Nini. Tangannya langsung merogoh saku bajunya.

Buru-buru ia memberikan uang itu kepada anak laki-laki itu.

Ketika menerima uang itu, wajah anak itu berubah gembira.

“Terima kasih, Kak!”

“Ya!” teriak Nini sambil menyeberang jalan.

Setibanya di depan toko sepatu, Nini segera masuk. Matanya langsung melihat sepasang sepatu merah muda berpita.

“Nah, ini dia yang kucari.” Kata Nini gembira, sambil membawa sepatu merah jambu itu ke kasir.

Akan tetapi, setiba di depan kasir, Nini tak bisa menemukan uangnya. Dengan gugup, diperiksanya semua kantong di bajunya, tetapi nihil.

Dengan wajah merah karena malu, Nini akhirnya berkata kepada petugas kasir, “Maaf Mbak, saya enggak jadi beli.”

Nini berjalan keluar toko dengan perasaan kecewa. Di depan toko, ada dua anak laki-laki yang menunggu Nini. Salah satunya adalah anak pengemis tadi.

“Kakak!” sapa anak yang lebih besar sambil menghampiri Nini.

“Terima kasih banyak, Kak! Kakak baik sekali memberikan uang seratus ribu kepada adik saya. Uang ini akan kami pakai untuk membeli makan selama beberapa hari. Juga untuk membeli obat Ibu. Sudah dua hari ini, Ibu kami sakit. Ayah kami sudah lama meninggal. Terima kasih banyak ya, Kak, terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan Kakak,” Sahut anak itu sambil menundukkan kepalanya berkali-kali.

“Ooh… yaa…” sahut Nini sambil terbengong-bengong. Kemudian kedua anak itu pergi bergandengan meninggalkan Nini yang masih tertegun.

Beberapa saat kemudian, Nini tertawa sendiri. “Ternyata yang aku kasih tadi itu seratus ribuan, bukan lima ribuan. Pantas saja seratus ribuanku tidak ada! Hahaha…”

Entah mengapa, perasaan kecewa Nini tadi langsung hilang, kini ia malah sangat gembira.

Bahkan lebih gembira daripada saat ia menerima uang itu dari Mama tadi. Setiba di rumah, Nini segera memeluk mamanya.

“Terima kasih ya, Ma. Selama ini Mama sudah baik pada Nini,” Kata Nini sambil tersenyum.

Mama yang sedang memasak di dapur, jadi bingung.

“Loh, ada apa, Sayang? Mana sepatu merah mudanya?”

“Sudah aku tukar dengan makanan dan obat, Ma,” Kata Nini sambil tertawa.

Mama bertambah bingung. Kemudian Nini menceritakan kejadian tadi.

“Menerima itu menggembirakan. Namun, memberi ternyata jauh lebih menggembirakan hati ya, Ma,” Lanjut Nini.

“Ah, anak Mama ini. Bertambah usia, ternyata semakin bijaksana,” puji Mama sambil mengusap lembut rambut Nini.